The Deaf Frog’s Triumph #shortstory

One day, in a vibrant gathering of fifty frogs, a unique competition unfolded—a race to climb the towering structure in the heart of the froggy community.

The first frog, fueled by excitement, eagerly attempted the climb. However, the audience, a tad judgmental, remarked, “You’re a small animal!” The discouraging comments unsettled the first frog, causing it to stumble and fall.

Undeterred, the second frog stepped up to the challenge. The audience, doubting its capabilities, proclaimed, “You’re impossible!” Despite its best efforts, the second frog too succumbed to gravity, tumbling down in defeat.

As the competition continued, the third frog bravely took its turn. Unfortunate as it was, the audience harshly criticized, “You’re stupid!” The third frog, disheartened, joined its predecessors on the ground.

With only one frog remaining, it valiantly persevered in climbing the tower. Surprisingly, the audience questioned, “How can this be?” The proud winner responded, “Because I’m deaf!” The realization struck the onlookers that the critical comments hadn’t affected this determined frog.

The conclusion drawn from this peculiar competition is simple but profound: Keep your dreams alive, regardless of the naysayers. The deaf frog’s resilience and focus on its goal enabled it to triumph against the odds, proving that sometimes, not hearing negativity is the key to reaching the top.

Kemenangan Kodok Tuli

Suatu hari, di sebuah pertemuan yang penuh semangat dengan lima puluh kodok, sebuah kompetisi unik terjadi - perlombaan untuk memanjat menara yang berdiri tegak di pusat komunitas kodok.

Kodok pertama, dipenuhi semangat, dengan cepat mencoba memanjat. Namun, penonton yang agak kritis berkomentar, "Kamu hewan kecil!" Komentar-komentar merendahkan itu membuat kodok pertama terganggu, menyebabkannya tergelincir dan jatuh.

Tidak gentar, kodok kedua mengambil giliran. Penonton, meragukan kemampuannya, berseru, "Kamu tidak mungkin!" Meskipun berusaha sebaik mungkin, kodok kedua juga tunduk pada gravitasi, terjatuh dalam kekalahan.

Saat kompetisi berlanjut, kodok ketiga dengan berani mengambil giliran. Sayangnya, penonton dengan keras mengkritik, "Kamu bodoh!" Kodok ketiga, merasa terpukul, bergabung dengan yang sebelumnya di tanah.

Dengan hanya satu kodok yang tersisa, dia dengan berani melanjutkan pendakian menara. Mengejutkan, penonton bertanya, "Bagaimana bisa ini?" Sang pemenang dengan bangga menjawab, "Karena saya tuli!" Kesadaran menyerang para penonton bahwa komentar-komentar kritis tidak mempengaruhi kodok yang penuh tekad ini.

Kesimpulan yang dapat diambil dari kompetisi yang aneh ini sederhana namun mendalam: Pertahankan mimpi-mimpi Anda, terlepas dari pendapat orang lain. Ketekunan dan fokus kodok tuli pada tujuannya memungkinkannya meraih kemenangan meski dihadapkan pada tantangan, membuktikan bahwa terkadang, tidak mendengar negativitas adalah kunci mencapai puncak.

Read Translation Close Translation